Kamis, 29 Desember 2011

surabaya the green city

Surabaya; The “Green” City of Heroes

TAMAN SEBAGAI PEMBENTUK RUANG KOTA, KARAKTERISTIK KOTA DAN RUANG SOSIAL

“Surabaya kembali memboyong piala adipura 2011” tertulis besar sebagai headline salah satu surat kabar nasional. Perasaan bangga muncul dari diri saya sebagai warga Surabaya.  Piala adipura ini merupakan yang ke-enam berturut-turut selama 6 tahun untuk kategori kota metropolitan terbersih di Indonesia.
Mungkin ada sebagian dari kita bertanya, seperti apa kota Surabaya sekarang ini sehingga berbagai penghargaan diperoleh oleh kota terbesar ke-dua di Indonesia ini, termasuk penghargaan “ASEAN Environment Sustainable City” oleh PBB.
Sungguh menarik apabila kita menilik dari awal perkembangan kota Surabaya dari sisi ilmu arsitektur kota. Surabaya termasuk tipikal kota pelabuhan dan perdagangan penting yang ramai di jaman penjajahan yang kemudian berkembang menjadi kota metropolitan terbesar setelah Jakarta. Sama dengan kota-kota besar lainnya, Surabaya juga dihadapkan dengan problem yang sama, salah satunya adalah problem perkembangan arsitektur kota diakibatkan tingkat urbanisasi yang tinggi. Pembangunan kota seperti tidak menyisakan ruang-ruang hijau bagi masyarakat untuk bernafas, ruas-ruas jalan menjadi sama dan karakteristik kota hilang. Hal ini disadari oleh sebagian oknum yang peduli, sehingga muncul gagasan untuk merubah kota Surabaya menjadi lebih baik, dan semua itu berawal dari penghijauan taman kota.
Menurut Kevin Lynch, elemen pembentuk kota dapat dikategorikan 5, yaitu paths, edges, districts, nodes, dan landmarks. Taman kota dapat dimasukkan dalam Edges, Nodes, dan Landmarks
The Image of the city
Pulau-pulau jalan sebagai edges
Taman Kota sebagai Nodes pertemuan antara beberapa ruas jalan

Taman Kota sebagai landmark kawasan
Menurut Jon Lang dalam bukunya berjudul Urban Design, Taman kota (Park) termasuk ke dalam produk dari arsitektur lanskap dan merupakan bagian dari desain urban. Tertulis, kualitas desain lanskap sebuah ruang terbuka sendiri menjadi sangat krusial dalam membentuk kualitas dan karakteristik suatu kota. Sebut saja Paris dengan boulevard-nya yang khas dan Singapura dengan riverfront-nya (Lang, 2006). Dari contoh-contoh tersebut juga dapat ditelusuri bagaimana kedua kota tersebut dapat sedemikian maju. Ternyata keberadaan ruang-ruang terbuka yang terdesain dengan benar mampu mempengaruhi pola hidup masyarakat setempat sehingga memiliki perilaku yang positif. Masyarakat dapat bersosialisasi dan melakukan aktivitas dengan nyaman.
Sama hal-nya dengan kasus kota Surabaya. Pengembalian fungsi lahan menjadi area terbuka hijau berupa taman kota terus dilakukan, perawatan taman dilakukan secara intensif. Alhasil, kalau kita berjalan-jalan ke Surabaya saat ini, kita dapat menyaksikan berbagai taman dengan pohon yang rindang dan bunga berwarna-warni. Pulau-pulau jalan dan sudut-sudut kota tidak ada yang dibiarkan gersang, lampu-lampu taman ikut menyemarakkan suasana malam kota Surabaya.
Dari sudut pandang arsitektur kota sendiri, taman-taman kota ini berhasil kembali pada fungsinya sebagai elemen pembentuk kota. Taman kota yang ada didesain dengan menonjolkan karakteristik kawasan setempat seperti nilai historis, budaya, sehingga kawasan tersebut ikut terangkat dan “hidup” kembali. Sebagai contoh, Taman Bungkul dengan urban legend makam mbah Bungkul yang menjadi parameter kawasan Darmo boulevard, Taman Monkasel yang menjadi pusat aktifitas muda-mudi di kawasan kalimas Surabaya plaza dengan Monumen Kapal Selam bekas perang kemerdekaan dan monumen Surabaya yang menjadi landmark kawasan tersebut, Taman Dolog/Pelangi dengan sculpture dan permainan lampunya yang menggugah imajinasi orang yang lewat pada nodes kawasan jalan Ahmad Yani
sumber: www.surabaya.go.id
www. surabaya.go.id
www.surabaya.go.id
Sungguh bermanfaat apa yang dilakukan oleh kota Surabaya. Wajah kota semakin hijau dan cantik, udara semakin bersih, serta masyarakatnya semakin sehat dan positif. Ada baiknya apabila kota-kota besar lainnya mengikuti pencapaian kota Surabaya dalam menata kotanya.

david s.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar